Suara
yang Pernah Hilang
Karya:
Nida Izzatus Safa’ah
Ia
adalah seorang gadis kecil yang tumbuh dengan keberanian yang tak pernah ia
ragukan. Saat SD kelas satu, ia tak pernah takut maju ke depan kelas. Tangannya
selalu terangkat paling tinggi ketika guru bertanya. Ia berbicara lantang,
penuh percaya diri.
Namun
suatu hari, sebuah kalimat sederhana dari temannya mengubah segalanya.
“Ah,
sok pintar banget sih.”
Ucapan
itu terdengar biasa bagi orang lain, tetapi tidak baginya. Sejak saat itu,
setiap kali ingin berbicara, ia merasa ada suara lain yang menahannya.
Perlahan, keberaniannya memudar.
Memasuki
SMP, ia berubah menjadi gadis yang pendiam. Ia tidak lagi mengangkat tangan
setinggi dulu. Ia lebih memilih duduk diam dan memperhatikan. Teman-temannya
sering menganggapnya sombong atau tidak asik karena sifat introvertnya.
Padahal,
di balik diamnya ia bekerja keras.
Ia
belajar sungguh-sungguh. Buku-bukunya penuh coretan rangkuman. Malam-malamnya
dihabiskan untuk memahami pelajaran. Ia jarang berbicara, tetapi ketika ujian
tiba namanya selalu ada di papan peringkat atas.
Beberapa
teman yang dulu meremehkannya mulai terdiam. Mereka mulai segan.
Meski
begitu, satu hal belum berubah ia masih takut berbicara di depan umum.
Ia
mencoba melawan ketakutannya dengan mengikuti organisasi. Jantungnya selalu
berdegup kencang setiap kali harus berbicara di depan umum. Tangannya dingin, suaranya
bergetar. Tapi ia tidak lagi lari. Ia tetap berdiri disana, meski dengan rasa
takut yang belum sepenuhnya hilang.
Saat
memasuki SMA, tantangan terasa lebih berat. Ia sekelas dengan siswa-siswa yang
dulu berasal dari kelas favorit. Ada yang pernah mengikuti Olimpiade Nasional,
bahkan Internasional. Prestasi mereka begitu mengkilap.
Sempat
ia merasa kecil.
Namun
kali ini, ia tidak membiarkan perasaan itu menguasainya. Ia tidak ingin
mengulang kesalahan masa lalu dengan membiarkan satu suara meruntuhkan dirinya.
Ia
belajar lebih giat. Ia mengatur waktunya antara organisasi dan akademik. Ia
tahu, prioritasnya tetap pendidikan. Setiap nilai menjadi bukti bahwa ia mampu.
Hari
kelulusan tiba.
Namanya
dipanggil sebagai salah satu lulusan terbaik di sekolah. Tepuk tangan memenuhi
ruangan. Ia tersenyum, bukan karena ingin diakui orang lain, tetapi karena ia
tahu ia berhasil mengalahkan ketakutannya sendiri.
Ia
memang belum sepenuhnya berani seperti dulu.
Namun
kini ia mengerti, keberanian bukan tentang tidak merasa takut. Keberanian
adalah tetap melangkah meski rasa takut masih ada.
Dan
dibalik diamnya, ada perjuangan yang tak pernah berhenti.

Komentar
Posting Komentar