PENGETUK PINTU
Sekian lama aku membangun pagar,
menjaga rumah agar tak sembarang terpapar.
Kukunci pintu dari ketukan yang ragu,
memilih sepi daripada luka yang baru.
Hingga langkahmu datang tanpa tergesa,
membawa tenang yang tak pernah aku duga.
Di antara bisingnya ribuan suara,
aku memilih heningmu untuk kudengar.
Di antara jutaan wajah yang menyapa,
hanya matamu yang membuatku berakar.
Bukan sekadar karena indahnya senyummu,
tapi karena jiwaku merasa utuh bersamamu.
Ini bukan tentang siapa yang pertama datang,
tapi tentang siapa yang tetap ingin menetap tenang.
Dunia mungkin menawarkan yang lebih,
namun aku tak pernah merasa selisih.
Sebab dalam setiap kurang dan lebihmu,
aku menemukan alasan untuk tetap satu.
Bukan karena kebetulan kita bertemu,
tapi karena setiap hari, aku sengaja menujumu.
Tanpa paksaan, tanpa ragu yang memburu,
hari ini dan selamanya,
Aku memilihmu.

Komentar
Posting Komentar