Karya: Gibran Ali Azizi
Suatu hari, langit berubah menjadi kelabu
dan kemudian bertanya,
"mengapa ia tampak termenung dan menimbulkan sunyi?"
Padahal.... mendung tidak selalu memaknai kesedihan.
Bisa saja ia hanya sedang melipat rindu,
menyimpan matahari di balik bayang-bayang awan yang
tebal,
agar dunia tahu cara menghargai teduh,
sebelum silau kembali memburu.
Di bawah kepungan kelam, ada riuh yang tak terdengar,
seperti akar yang berbisik pada tanah tentang dahaga,
atau sepasang mata yang lebih memilih menutup,
bukan karena lelah, tapi karena ingin merasa lebih dalam.
Jangan kau paksa ia bicara saat guntur belum tiba,
biarkan heningnya menjadi peluk bagi mereka yang patah,
sebab di dalam abu-abu itu, tersimpan janji paling basah,
tentang kehidupan yang akan mekar setelah air tumpah.
Langit tidak sedang bersedih, kawan, ia hanya sedang bersiap untuk sebuah perayaan, membersihkan debu yang menempel di pundak sejarah, dan membiarkan bumi kembali bernapas dengan lega.
Dan mungkin, di balik kelabu itu ada cerita tentang rindu yang belum sempat pulang, atau doa yang sedang diperjuangkan.
Karena tidak semua yang redup itu hilang, tidak semua yang diam itu kosong, kadang, semesta hanya butuh jeda untuk kembali menjadi terang dengan cara yang lebih utuh.

Komentar
Posting Komentar