VIRTUAL MADING #PART01
MM 2B - ARTIKEL
Mencapai Mahasiswa Berkualitas Dengan Literasi
Kurangnya minat mahasiswa dalam membaca buku sangatlah berpengaruh terhadap kualitas yang ada pada dirinya. Apalagi perkembangan teknologi saat ini yang sangat pesat membuat mahasiswa menjadi malas membaca buku dan lebih memilih membaca media sosial. Padahal dengan membaca buku banyak manfaat yang akan didapatkan, salah satunya adalah menambah wawasan. Selain itu, ketika membaca buku mahasiswa dapat mengetahui peristiwa – peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar maupun seluruh dunia serta mampu menambah ide ketika diskusi di kelas.
Akan tetapi, pada kenyataannya mahasiswa kerap kali menerapkan sikap mager untuk membaca buku. Berdasarkan hasil survei kajian budaya baca masyarakat Indonesia yang dilakukan di 11 Provinsi dapat disimpulkan bahwa 65% responden mengisi waktu luangnya untuk melakukan aktivitas selain membaca, sedangkan 35% responden mengisi waktu luangnya dengan membaca. Aktivitas selain membaca yang dominan dilakukan adalah 21% responden menonton TV dan sisanya melakukan aktivitas, seperti bermain game atau media sosial melalui gawai. Hasil survei tersebut menunjukan bahwa masih terdapat mahasiswa yang belum terbiasa melakukan aktivitas dengan membaca buku. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu faktor utama budaya literasi atau membaca buku kurang diminati mahasiswa. Dr. Roger Farr (1984) menyebutkan bahwa “reading is the heart of education”, artinya membaca adalah jantung pendidikan. Kutipan tersebut dapat dianalogikan ketika manusia tanpa jantung tak akan hidup, begitupun dengan pendidikan, tanpa membaca kualitas pendidikan pun akan menjadi rendah.
Menurut Miller dan Mc Kenna (2016), terjadinya aktivitas literasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah proficiency atau kecakapan. Faktor tersebut merupakan syarat awal agar mahasiswa dapat mengakses sumber literasi. Selain itu, faktor tersebut dapat menjadikan mahasiswa mudah untuk menuangkan pendapatnya dalam bentuk tulisan. Yang kedua adalah access. Faktor tersebut merupakan sumber daya pendukung di mana masyarakat dapat melakukan literasi, seperti perpustakan, toko buku, dan media massa. Yang ketiga adalah alternatif. Faktor ini dimaknai sebagai opsi lain yang disediakan oleh perangkat elektronik dan digital dalam mengakses sumber literasi. Dengan demikian, kegunaan dari perangkat elektronik ini mampu menimbulkan akibat positif untuk mahasiswa, tetapi hal ini harus diikuti sikap selektif dalam mengakses sumber literasi. Yang keempat adalah culture atau budaya. Faktor tersebut meliputi gagasan, nilai, norma, dan makna yang dibentuk oleh keluarga, komunitas, dan lingkungan yang lebih luas. Dalam hal ini, budaya dimaknai sebagai upaya untuk membentuk kebiasaan literasi. Empat faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam mendukung terjadinya literasi, sehingga hilangnya satu faktor akan memengaruhi fungsi dari faktor lainnya
Faktor tersebut dapat dijadikan tolak ukur mahasiswa dalam mengembangkan minat untuk membaca buku. Dengan meningkatkan minat baca ini, mahasiswa mudah untuk menyelasaikan tugas akhir baik skripsi, tesis, maupun disertasi. Tanpa membiasakan untuk membaca buku menjadikan mahasiswa kesulitan untuk menyelesaikan tugas akhir, sehingga menghambat kelulusan. Maka dari itu, mulailah membaca buku dari sekarang karena dengan membaca buku segala kesulitan mampu terpecahkan dan kelangsungan hidup pendidikan pun mampu berjalan dengan baik.
MM 2B - ARTIKEL
Mencapai Mahasiswa Berkualitas Dengan Literasi
Kurangnya minat mahasiswa dalam membaca buku sangatlah berpengaruh terhadap kualitas yang ada pada dirinya. Apalagi perkembangan teknologi saat ini yang sangat pesat membuat mahasiswa menjadi malas membaca buku dan lebih memilih membaca media sosial. Padahal dengan membaca buku banyak manfaat yang akan didapatkan, salah satunya adalah menambah wawasan. Selain itu, ketika membaca buku mahasiswa dapat mengetahui peristiwa – peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar maupun seluruh dunia serta mampu menambah ide ketika diskusi di kelas.
Akan tetapi, pada kenyataannya mahasiswa kerap kali menerapkan sikap mager untuk membaca buku. Berdasarkan hasil survei kajian budaya baca masyarakat Indonesia yang dilakukan di 11 Provinsi dapat disimpulkan bahwa 65% responden mengisi waktu luangnya untuk melakukan aktivitas selain membaca, sedangkan 35% responden mengisi waktu luangnya dengan membaca. Aktivitas selain membaca yang dominan dilakukan adalah 21% responden menonton TV dan sisanya melakukan aktivitas, seperti bermain game atau media sosial melalui gawai. Hasil survei tersebut menunjukan bahwa masih terdapat mahasiswa yang belum terbiasa melakukan aktivitas dengan membaca buku. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu faktor utama budaya literasi atau membaca buku kurang diminati mahasiswa. Dr. Roger Farr (1984) menyebutkan bahwa “reading is the heart of education”, artinya membaca adalah jantung pendidikan. Kutipan tersebut dapat dianalogikan ketika manusia tanpa jantung tak akan hidup, begitupun dengan pendidikan, tanpa membaca kualitas pendidikan pun akan menjadi rendah.
Menurut Miller dan Mc Kenna (2016), terjadinya aktivitas literasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah proficiency atau kecakapan. Faktor tersebut merupakan syarat awal agar mahasiswa dapat mengakses sumber literasi. Selain itu, faktor tersebut dapat menjadikan mahasiswa mudah untuk menuangkan pendapatnya dalam bentuk tulisan. Yang kedua adalah access. Faktor tersebut merupakan sumber daya pendukung di mana masyarakat dapat melakukan literasi, seperti perpustakan, toko buku, dan media massa. Yang ketiga adalah alternatif. Faktor ini dimaknai sebagai opsi lain yang disediakan oleh perangkat elektronik dan digital dalam mengakses sumber literasi. Dengan demikian, kegunaan dari perangkat elektronik ini mampu menimbulkan akibat positif untuk mahasiswa, tetapi hal ini harus diikuti sikap selektif dalam mengakses sumber literasi. Yang keempat adalah culture atau budaya. Faktor tersebut meliputi gagasan, nilai, norma, dan makna yang dibentuk oleh keluarga, komunitas, dan lingkungan yang lebih luas. Dalam hal ini, budaya dimaknai sebagai upaya untuk membentuk kebiasaan literasi. Empat faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam mendukung terjadinya literasi, sehingga hilangnya satu faktor akan memengaruhi fungsi dari faktor lainnya
Faktor tersebut dapat dijadikan tolak ukur mahasiswa dalam mengembangkan minat untuk membaca buku. Dengan meningkatkan minat baca ini, mahasiswa mudah untuk menyelasaikan tugas akhir baik skripsi, tesis, maupun disertasi. Tanpa membiasakan untuk membaca buku menjadikan mahasiswa kesulitan untuk menyelesaikan tugas akhir, sehingga menghambat kelulusan. Maka dari itu, mulailah membaca buku dari sekarang karena dengan membaca buku segala kesulitan mampu terpecahkan dan kelangsungan hidup pendidikan pun mampu berjalan dengan baik.

Komentar
Posting Komentar