TERATAI HITAM
Oleh: Fathullah Manshur Az-zamani
Sudah berapa kali jantung ini menghitung?
Entah. Aku lupa, atau memang tak ingin ingat.
Setiap wangi yang kau semaikan di kejauhan,
kusambut dengan tangan hampa, berlari meski tahu akan jatuh.
Aku menatap, dengan mata yang perih dan gugup, dan yang kutemukan hanya hitam.
Hitam pekat yang menelan.
Teratai yang kutanam di dasar hati, lagi-lagi, hanya layu dan arang.
Percuma… Masih sama jawaban yang menggantung di ubun-ubun malam:
terima kasih, tuhan.
Untuk perjalanan yang melelahkan ini, untuk kesempatan yang selalu berakhir dengan "hampir".
Kini hanya satu yang kupinta:
jadikan teratai itu lembar paling akhir.
Aku lelah menjadi rawa.
Lelah menanti mekar di tengah busuk.
Biarlah hitam ini diam.
Teratai hitam jiwa.
Komentar
Posting Komentar